Halaman yang Rumpang — Cerpen Alecia Frilyan
October 16, 2026 2026-10-16 3:42Halaman yang Rumpang — Cerpen Alecia Frilyan
Global Indonesia School terus mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berekspresi melalui berbagai karya literasi, salah satunya melalui penulisan cerita pendek.
Melalui cerpen berjudul Halaman yang Rumpang, Alecia Frilyan mengangkat kisah tentang tekanan ekspektasi, persahabatan, dan pencarian kebahagiaan diri. Cerita ini mengajak pembaca untuk merefleksikan arti pencapaian serta pentingnya memahami perasaan dan keinginan diri sendiri.
Halaman yang Rumpang
Oleh Alecia Frilyan
Hiraeth adalah seorang anak perempuan berusia 16 tahun yang tumbuh di keluarga yang cukup kaya dan lumayan dikenal. Karena sebagian besar anggota keluarganya dikenal sebagai orang-orang yang sukses dan berprestasi, orang tuanya sering menuntutnya untuk menjadi seperti mereka yang dianggap “sempurna”.
Di sekolah, Hiraeth dikenal sebagai salah satu murid yang paling berprestasi di bidang akademis. Namun, ia tidak pernah merasa cukup karena nilai pelajaran nonakademisnya dianggap di bawah rata-rata.
Di keluarganya, ia merasa bahwa mengekspresikan perasaannya adalah sebuah ancaman karena orang tuanya selalu beranggapan bahwa perasaan Hiraeth berlebihan dan konyol.
“Kalau orang tuaku sendiri saja tidak bisa menerima perasaanku dengan baik, bagaimana dengan anggota keluargaku yang lain?”, pikir Hiraeth.
Maka dari itu, ia tidak pernah bisa terbuka dengan siapa pun di keluarganya.
Mau bagaimanapun, ia hanya dapat mengandalkan teman-teman media sosialnya untuk mengekspresikan diri dan sebagai satu-satunya motivasi. Hal tersebut membuatnya menjadi terlalu bergantung pada mereka, seolah-olah mereka semua akan bersahabat selamanya. Sayangnya, pemikiran itu bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya. Ia selalu menganggapnya sebagai pelarian, dengan berfokus hanya pada momen-momen yang membawanya kegembiraan dan apa yang terjadi saat ini.
Hiraeth sering mendapati dirinya mendengarkan daftar putar lagu milik sahabatnya, menemukan rasa hangat dan sukacita dalam minat, tontonan, dan gim favorit mereka, apa pun yang mengingatkannya pada mereka.
Hari-harinya terasa seperti sebuah putaran. Ia pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, dan menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatnya di media sosial. Siklus itu tidak membuat Hiraeth bosan. Sebaliknya, putaran yang terus berulang itu justru memberinya rasa nyaman, seolah-olah semuanya akan selalu berjalan dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, orang tuanya mulai menyadari bahwa akhir-akhir ini Hiraeth lebih sering menghabiskan waktu di kamar, duduk di depan komputer sembari bermain gim, dengan suara percakapan yang terdengar samar-samar dari balik pintunya yang terkunci.
Awalnya, mereka tidak terlalu memedulikannya. Namun, semakin sering mendengar percakapan tersebut, rasa penasaran mulai muncul dalam pikiran mereka. Mereka mulai sering bertanya-tanya tentang siapa yang sering menghabiskan waktu dengan Hiraeth.
Perlahan-lahan, rasa penasaran berubah menjadi kecurigaan. Mereka mulai khawatir bahwa Hiraeth sedang berbicara dengan orang-orang yang tidak mereka kenal melalui internet.
Kecurigaan tersebut semakin mendorong orang tuanya untuk bertindak. Suatu hari saat Hiraeth sedang bersekolah, ibunya memanfaatkan kesempatan untuk memeriksa aplikasi media sosial Hiraeth melalui komputer miliknya. Sesuai dugaannya, Hiraeth memang berbicara dengan orang-orang yang tidak dikenal oleh orang tuanya. Diselimuti rasa khawatir, tangan ibunya berhenti di atas papan ketik setelah membaca percakapan-percakapan itu. Ibunya bahkan membaca berbagai isi curhatannya, yang merupakan ketakutan terbesar bagi Hiraeth.
Sekarang, semuanya terasa masuk akal baginya. Alasan Hiraeth selalu mengunci pintu saat bermain, gerak-geriknya yang selalu terlihat gugup, serta ekspresi paniknya setelah orang tuanya memasuki kamarnya. Canda dan tawa yang sebelumnya terdengar dari dalam juga selalu berubah menjadi kesunyian.
Saat itu juga, ibunya menghapus aplikasi-aplikasi media sosialnya, hanya menyisakan satu aplikasi yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan orang-orang yang Hiraeth temui di sekolah. Tidak hanya itu, ia juga membuat pengaturan agar Hiraeth tidak bisa memasang kembali aplikasi-aplikasi tersebut tanpa izin dari orang tuanya, termasuk membatasi akses ke situs-situs yang berkaitan dengan aplikasi tersebut.
Ibunya menghela napas dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega karena percaya bahwa tindakannya barusan adalah suatu bentuk perlindungan untuk Hiraeth. Namun, bukannya merasa bersalah kepada anaknya, ia merasa kecewa karena menganggap Hiraeth kurang bersyukur.
“Padahal masih banyak banget yang harus ia capai, loh. Kok malah sibuk mikirin perasaan sendiri, sih? Buang-buang waktu aja,” ujar ibunya dengan heran.
Sebelum ibunya sempat memutar kursi dan berdiri, perhatiannya teralihkan oleh suara pintu depan yang terbuka, diikuti oleh suara yang sudah ia kenal.
“Aku pulang!” seru Hiraeth dengan riang.
Seketika, pintu kamar terbuka, Hiraeth terdiam sebentar setelah mendapati ibunya duduk di depan layar komputernya. Senyum riang yang sebelumnya terpampang di wajahnya sekarang telah memudar. Hiraeth tersenyum canggung, berdiri sembari memainkan jemarinya dengan gelisah.
“Eh, ibu… ngapain di sini?” tanya Hiraeth dengan gugup.
“Sini, ibu mau ngomong sama kamu,” perintah ibunya dengan tegas sambil menyilangkan lengannya dengan ekspresi datar.
Hiraeth melangkah dengan ragu-ragu. Setiap langkah terasa berat dan menakutkan. Ia berhenti tepat di depan ibunya, menundukkan kepala sembari mencoba menghindari kontak mata. Perlahan-lahan, Hiraeth merasa tasnya lebih berat dari sebelumnya. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri seakan-akan jantungnya berada di dalam telinganya. Jemarinya yang sejak tadi ia mainkan pun tiba-tiba terasa kaku.
Ibunya menatap Hiraeth dengan tajam. Ia membiarkan kesunyian mengisi ruangan sebelum memecah keheningan.
“Ibu tadi baca percakapan kamu dengan teman-teman internet kamu,” ungkap ibunya dengan terus terang.
Mendengar ungkapan itu, Hiraeth terdiam. Ia berhenti memainkan jemarinya, napasnya terhenti tanpa sadar.
“Ibu perhatikan kamu akhir-akhir ini terlalu sering bermain gim dengan mereka. Kamu tahu atau tidak, seberapa bahaya orang-orang yang ada di internet?” tegur ibunya dengan tegas. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak bimbang sedikit pun.
Hiraeth mencoba mengeluarkan suara, tetapi kata-kata yang ingin ia keluarkan seakan-akan terjebak di tenggorokannya.
Ibunya perlahan berdiri dari tempat duduk. Hiraeth memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Matanya terpaku pada tatapan ibunya yang tajam.
“Ibu nggak ngerti kenapa kamu sampai merasa kayak gitu. Hiraeth, Ibu baca isi curhatan kamu, loh. Apa kamu nggak malu?!” bentak ibunya sambil menunjuk Hiraeth dengan jari telunjuknya.
Hiraeth tersentak kecil ketika ibunya menunjuk ke arahnya, tidak memberi sedikit ruang untuk Hiraeth bersuara.
Ibunya menyilangkan tangannya dan menghela napas kecewa, mencoba menenangkan diri.
“Hiraeth, kamu udah punya semuanya. Daripada buang-buang waktu mikirin perasaan, mending kamu fokus capai lebih banyak demi masa depanmu kalau mau sukses. Ibu melakukan ini untuk melindungi kamu,” ujar ibunya dengan nada yang tegas.
Rasa takut terpampang jelas di wajah Hiraeth, membuatnya tidak punya pilihan lain selain mengangguk pelan.
Ibunya menatap Hiraeth sejenak. Tanpa melontarkan kata-kata lagi, ia berbalik dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Hiraeth sendiri di kamarnya.
Setelah pintu kamar tertutup, Hiraeth menghela napas panjang, menyadari bahwa sejak tadi ia menahannya. Bahu dan jemarinya pun perlahan mengendur.
Perhatiannya teralihkan oleh layar komputernya yang menyala. Ia melempar tas sekolahnya ke atas kursi dengan gerakan yang lemas. Dengan rasa penasaran yang menyelimuti ekspresinya, ia memeriksa aplikasi-aplikasi media sosialnya hanya untuk mendapati bahwa berbagai aplikasi telah dihapus dari komputernya.
Hiraeth mencoba memasang kembali salah satu aplikasi tersebut. Namun, ia terhenti ketika sebuah pemberitahuan muncul di layar dan meminta izin dari orang tuanya. Ia mencoba mengakses situs yang berkaitan dengan aplikasi tersebut, tetapi aksesnya juga dibatasi.
Ia terdiam sejenak, menyadari bahwa ibunya telah membatasi seluruh aksesnya terhadap aplikasi-aplikasi tersebut.
Sejak hari itu, Hiraeth mulai bersikap berbeda. Selama berbulan-bulan, alih-alih lebih rajin belajar, ia malah lebih sering mengurung diri. Ia semakin enggan makan, kehilangan motivasi, dan lebih jarang keluar dari kamarnya kecuali untuk sekolah.
Suatu hari, ia mencoba mendengarkan daftar putar lagu milik sahabatnya. Kehangatan yang biasanya ditemukan dari hal sederhana itu berubah menjadi perasaan pahit manis yang disertai kerinduan.
Tanpa teman-teman sebagai tempat bercerita, ia tidak lagi memiliki seseorang untuk meluapkan perasaannya. Setelah beberapa lama, ia memutuskan untuk mulai menulis buku harian. Mungkin dengan begitu, ia bisa menulis semua hal yang selama ini tidak dapat ia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu malam, Hiraeth mulai mencari buku kosong di kamarnya sembari membereskan kamarnya. Ia membuka beberapa laci dan memeriksa rak-rak yang jarang ia sentuh. Hingga akhirnya, di antara tumpukan buku lama, ia menemukan sebuah buku yang belum pernah digunakan sama sekali.
Sampulnya yang berwarna hitam terlihat sedikit usang dan berdebu. Karena tidak menemukan buku kosong lainnya, ia memutuskan untuk menggunakannya sebagai buku harian mulai esok hari.
Setelah selesai membereskan kamarnya dan memasukkan buku harian ke dalam tas sekolahnya, Hiraeth berdiri dengan kedua tangan di pinggul dan bahu terkulai. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling kamar. Dengan raut wajah yang menunjukkan kepuasan samar, ia menghela napas lega.
Ia membiarkan kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya. Ada sedikit rasa bangga dalam dirinya. Sudah lama ia tidak membereskan kamarnya karena kurangnya motivasi.
Saat itu juga, ia mulai bersiap untuk tidur. Ironisnya, ia telah mempersiapkan seragam dan buku untuk sekolah di keesokan harinya, mengkhianati keinginan terdalamnya untuk tetap berada dalam tidur yang damai.
Sebelum tertidur, ia melihat ke arah jendela yang menunjukkan bulan yang bersinar terang di langit malam yang gelap. Dengan kagum, ia memandang bulan sembari berbaring telentang di tempat tidur. Ia berharap suatu hari dapat bersinar seperti bulan itu, tetapi tidak ingin menjadi pusat tatapan di antara bintang-bintang.
Ia membiarkan kelopak matanya terpejam.
Tidurnya terasa seperti kedamaian sementara yang tidak ingin ia tinggalkan.
Pagi pun datang. Hiraeth terbangun oleh sinar matahari yang menyelinap di antara celah tirai dan jatuh ke wajahnya, disusul suara nyaring alarm yang memecah kesunyian.
Dengan mata yang masih setengah terpejam, ia meraba-raba bagian atas jam weker dan menekan tombol di atasnya.
Semuanya selalu terasa sama di pagi hari. Perasaan yang rumpang seakan menjadi sambutan hariannya, ditandai dengan hati yang berat dan kurangnya motivasi. Dengan berat hati, ia menyeret dirinya keluar dari tempat tidur.
Rasa bersalah akibat kurangnya produktivitas memaksanya untuk segera bersiap ke sekolah. Tanpa banyak nafsu makan, ia hanya menyiapkan roti tawar dengan selai srikaya dan segelas susu. Ia memakannya perlahan, mencoba memperbaiki suasana hatinya dengan menikmati setiap suapan roti dengan selai kesukaannya.
Setelah selesai menjalani rutinitas paginya, Hiraeth berdiri di depan cermin. Wajahnya terlihat lelah. Ia hanya merapikan rambutnya sebelum mengambil tas dan meninggalkan kamar.
Sesampainya di sekolah, ia duduk di kursi yang biasanya ia tempati dengan tas sekolahnya di bawah meja. Seperti biasa, ia datang paling awal di antara teman-temannya agar dapat memanfaatkan waktu luang untuk melakukan apa pun sendiri dengan bebas.
Ia mengeluarkan buku hariannya dan menuliskan beberapa kalimat yang berisi luapan perasaannya semenjak tidak dapat berbicara dengan sahabatnya melalui internet.
Setelah beberapa saat, ia berhenti menulis. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang ganjil.
“Kok tiba-tiba perasaanku gak enak, sih…? Apa tadi lupa bawa buku catatan, ya?” bisik Hiraeth.
Hiraeth menarik ritsleting tasnya hingga terbuka, mengaduk-aduk isi tasnya dan memeriksa buku yang ia bawa.
“Sains…”
“Bahasa Inggris…”
“Bahasa Indonesia…” bisik Hiraeth, mengingat kembali jadwal pelajaran pada hari itu sembari mencocokkannya dengan buku catatan yang ada.
Ia berhenti di tengah gerakan.
“Lengkap, kok… gak ada yang salah bawa juga,” pikir Hiraeth. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruang kelas, seolah-olah tertulis sebuah jawaban di suatu tempat.
Ia menegakkan punggungnya. Matanya seketika terbuka lebar. Ia teringat bahwa hari itu juga akan diadakan ujian renang dalam pelajaran olahraga, tetapi ia sendiri belum sempat berlatih sama sekali.
“Hah, harus banget ya hari ini… kok aku bisa lupa, sih?” keluh Hiraeth dalam hati.
Getaran notifikasi dari ponsel Hiraeth memecah kesunyian. Ia meraih ponselnya di atas meja, layarnya menampilkan sebuah pesan pengingat ujian dari guru olahraganya yang dikirim melalui grup kelas.
“Pengingatnya juga baru dikirim sekarang,” ucap Hiraeth dengan nada sedikit kesal.
Hiraeth kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan tas sekolahnya di bawah meja. Ia mengambil penanya, hendak menulis ketika seseorang memasuki ruang kelas.
Suara pintu yang terbuka membuat Hiraeth sedikit terkejut, kemudian disusul oleh sapaan riang teman sebangkunya.
“Selamat pagi, Reth!” sapanya sembari melambaikan tangannya kepada Hiraeth, senyumnya tampak menyinari ruangan seperti biasa.
“Pagi, Lyra,” jawab Hiraeth dengan nada yang ramah, mencoba mengimbangi energinya. Hiraeth sempat melihat ke arah tas tambahan yang Lyra bawa sebelum kembali menatap matanya.
Lyra berjalan ke arah bangku mereka berdua. Ia menggantungkan tali tas sekolahnya di sandaran kursi sebelum duduk di samping Hiraeth, lalu meletakkan tas yang berisi perlengkapan renang di bawah meja.
Hiraeth memperhatikan Lyra mengeluarkan buku sketsanya sebelum kembali menggerakkan penanya di atas kertas, menulis kalimat baru.
“Hari ini ternyata ada ujian renang, aku lupa tentang itu. Aku harap hari ini hujan akan turun sepanjang pelajaran olahraga agar ujiannya diundur,” tulis Hiraeth pada baris baru.
Tinta hitam dari penanya menghias setiap baris dengan tulisan. Sekarang, Hiraeth telah mengisi setengah halaman dengan tulisannya.
Kedua siswi kini melakukan aktivitasnya masing-masing, ditemani dengan keheningan nyaman yang mengisi ruangan.
Waktu berlalu dengan cepat. Satu per satu murid memasuki ruangan hingga bel berbunyi. Sepanjang pelajaran, perhatian Hiraeth terkadang teralihkan oleh Lyra yang sibuk menggambar di buku sketsanya.
Hal itu sudah biasa bagi Hiraeth, tetapi ia selalu mendapati dirinya merasa iri sekaligus kagum pada bakatnya dalam bidang seni. Ketika Lyra sadar Hiraeth sedang memerhatikannya, Lyra tersenyum tipis dan memperlihatkan gambarnya. Percakapan-percakapan kecil pun mulai terjalin di antara mereka.
Waktu terasa begitu cepat, jam pelajaran olahraga pun hendak dimulai. Hiraeth menghela napas panjang. Ia menatap buku hariannya yang masih terbuka di atas meja, sementara murid-murid lain bergegas untuk mengganti pakaian. Entah mengapa, tulisan yang tadi pagi ia buat kembali terlintas di kepalanya.
Murid-murid lainnya menuju ke kolam renang. Sementara itu, Lyra kembali ke ruang kelas untuk mengajak Hiraeth terlebih dahulu.
Lyra menjulurkan kepalanya dari balik pintu kelas.
“Hiraeth, kamu nggak ikut ujiannya? Udah disuruh kumpul di kolam renang, loh. Aku aja udah ganti baju,” tanya Lyra sambil memiringkan kepalanya.
Hiraeth mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari buku hariannya. Lalu, ia berdiri dari bangkunya dan menghampiri Lyra.
“Nggak bisa, sih. Aku lupa kalau hari ini ada ujian, jadi aku nggak bawa perlengkapannya,” jawab Hiraeth sambil menggaruk tengkuknya dengan ekspresi canggung, sedikit mengalihkan pandangannya.
Lyra mengangguk, perlahan melangkah menjauh dari ruangan kelas dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya.
“Yaudah, nggak apa-apa. Ayo, kumpul sekarang sama yang lain. Kalau kena tegur karena telat, aku salahin kamu, ya!” goda Lyra dengan senyum jahil.
Hiraeth berjalan cepat mengejarnya, kemudian menyesuaikan langkahnya dengan Lyra.
“Iya, deh. Terserah,” balas Hiraeth sambil terkekeh kecil.
Mereka berdua akhirnya sampai di kolam renang. Murid-murid lainnya sudah berkumpul bersama guru olahraga. Beberapa dari mereka sedang berbicara satu sama lain, sementara yang lain sibuk menyiapkan perlengkapan renang masing-masing.
“Semuanya, tolong berkumpul terlebih dahulu sebelum kita mulai,” ujar guru olahraganya.
Hiraeth berdiri tanpa perlengkapan renang apa pun di tangannya. Lyra berjalan menghampiri sekelompok murid, Hiraeth pun mengikuti di sampingnya. Pandangan Hiraeth beralih kepada murid-murid lain yang sudah bersiap di sekitar kolam.
Guru olahraga mulai menjelaskan kembali gerakan renang yang akan diuji. Murid-murid lain mendengarkan dengan fokus, sementara Hiraeth mengalihkan pandangannya ke langit.
Namun, tetes hujan pertama jatuh tepat di depannya. Sebelum Hiraeth dapat bereaksi, tetes hujan lainnya kembali jatuh.
Tetes-tetes hujan mulai berjatuhan semakin sering. Beberapa murid mengeluh, sementara suara hujan semakin terdengar di sekitar mereka.
“Yah, kok hujan?” seru salah satu murid.
Guru olahraga menghentikan penjelasannya dan menatap ke arah langit. Perlahan-lahan, hujan turun semakin deras.
Guru olahraga akhirnya meminta para murid kembali ke kelas untuk berteduh. Sepanjang berjalan ke kelas, beberapa murid ada yang merasa kecewa, ada juga yang merasa lega karena ujian diundur.
Hiraeth berjalan di samping Lyra, tulisan yang tadi pagi Hiraeth buat terlintas lagi di kepalanya. Ia berpikir bahwa kebetulan itu agak lucu.
“Kenapa ketawa sendiri? Ada yang lucu, kah?” tanya Lyra dengan nada sedikit heran.
Hiraeth menoleh ke arah Lyra.
“Nggak ada apa-apa sih, tapi tadi aku sempet berharap bakal hujan. Kebetulannya pas banget,” jawab Hiraeth singkat.
Lyra hanya mengangguk pelan.
Di ruang kelas, pelajaran berlalu seperti biasa. Begitu juga keseharian Hiraeth. Ia tidak terlalu memikirkan kejadian hujan itu lagi dan menganggapnya hanya sebagai sebuah kebetulan.
Beberapa hari kemudian, Hiraeth sedang duduk di bangkunya saat jam istirahat dan menulis di buku hariannya. Ia membuka halaman baru, menatap halaman kosong itu sejenak sebelum menulis sambil melamun.
“Aku berharap bisa makan puding mangga hari ini.”
Ia meletakkan penanya di atas meja, membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya.
Lyra kembali memasuki ruang kelas. Ia lalu meletakkan kantong plastik di atas meja mereka. Dengan gembira, ia menghampiri Hiraeth dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Reth, Reth! Mau makan bareng nggak? Aku dipesanin nasi ayam teriyaki sama ibuku. Ada puding mangga juga, nih. Kamu suka, kan?”
Hiraeth mengangkat kepalanya untuk menatap Lyra, melirik kantong plastik di tangannya.
“Puding mangga…?” tanyanya.
Lyra mengangguk. “Iya. Kenapa?”
Hiraeth terdiam. Tatapannya beralih dari Lyra ke buku hariannya yang terbuka.
Barusan, ia menulis hal yang sama.
“Nggak… nggak apa-apa. Makasih, ya,” jawab Hiraeth akhirnya.
Ia mengambil puding tersebut dari kantong plastiknya dengan ragu.
Apa mungkin hanya kebetulan?
Saat Hiraeth sedang makan bersama Lyra, ia sempat berpikir untuk menulis sesuatu yang jauh lebih spesifik dan mustahil.
Dua hal yang telah ia tulis.
Hujan. Puding mangga.
Ia tidak bisa mengabaikan dua kejadian tersebut.
Bel pulang pun berbunyi. Murid lain mulai membereskan barang masing-masing dan hendak pulang, termasuk Lyra.
“Reth, duluan ya.” Lyra melambaikan tangannya dengan senyum yang ramah sebelum melangkah keluar kelas. Meninggalkan Hiraeth sendiri.
Hiraeth tersenyum tipis dan membalas lambaian tangannya.
Alih-alih langsung berangkat pulang, Hiraeth mengeluarkan buku hariannya dan mulai menulis.
“Aku berharap ibuku akan memberiku sebutir beras sebelum ia pergi bekerja.”
Hiraeth menatap tulisan sendiri sejenak. Lalu mendengus kecil.
“Apaan, sih…” bisiknya pada dirinya sendiri.
Ia memasukkan buku hariannya ke dalam tas sekolahnya, menarik ritsleting tasnya hingga tertutup, lalu menyandang tasnya di bahu sebelum meninggalkan ruang kelas.
Sesampainya di rumah, Hiraeth menyambut ibunya dengan setengah hati sembari menendang lesu sepatunya hingga terlepas.
“Aku pulang,” ucap Hiraeth tanpa antusias.
“Yaa…” sahut ibunya.
Hiraeth menghampiri ibunya di dapur. Ia meletakkan tasnya di lantai setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan meja makan.
“Masak apa, Bu?” tanyanya sambil melirik ke arah masakan.
“Panekuk. Ibu harus cepat berangkat kerja, makan ini aja, ya?” jawab ibunya sambil membalikkan panekuk di atas wajan.
Tak lama kemudian, ibunya berbalik membawa sebuah piring yang berisi panekuk dengan sirup maple di atasnya.
Hiraeth menerima piring tersebut. Ia mengambil sebuah sendok dan mulai menikmati setiap suapan makanan favoritnya.
Sebelum ibunya meninggalkan dapur, ia tiba-tiba menjatuhkan satu butir beras di atas piringnya tanpa melontarkan kata apa pun.
“Hah, ini buat apa, Bu?” Hiraeth bertanya dengan heran.
Ibunya tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan cepat meninggalkan dapur, disusul suara pintu terbuka dan terkunci dari luar.
Hiraeth menatap beras itu di hadapannya. Seketika, ia terdiam. Kesadaran perlahan mulai muncul di dalam pikirannya. Ia teringat pada tulisan yang ia buat sebelum bergegas pulang sore itu.
Ia lalu menghabiskan makanannya dengan cepat. Merasa gembira sekaligus ragu, ia membuka ritsleting tasnya lalu mengambil buku harian dan penanya.
Hujan sepanjang pelajaran olahraga.
Puding mangga dari Lyra.
Dan sekarang, sebutir beras yang terdengar sangat konyol.
Semuanya tertulis di buku itu.
Jemarinya meraih pena itu. Hiraeth tahu bahwa ia bisa saja mendapatkan kembali sesuatu yang sudah hilang hanya dengan menuliskan beberapa kata.
Ujung pena itu berhenti tepat di atas kertas yang kosong. Hiraeth terdiam, pikirannya membuatnya ragu untuk menuliskan keinginannya agar dapat berbicara dengan sahabat-sahabatnya melalui internet.
Ia teringat saat semua orang masih ada. Semakin Hiraeth memikirkannya, ia mulai menyadari pola perilakunya, terutama saat ia terlalu bergantung kepada teman-temannya.
Bagaimana kalau, tidak peduli berapa kali ia menulis harapan untuk dapat berbicara kepada teman-temannya, semuanya akan berakhir sama?
Bagaimana kalau orang tuanya akan terus menghalangi jalannya dengan teman-temannya?
Ia menatap ujung penanya. Kali ini, ia tidak yakin bahwa mendapatkan sesuatu kembali akan membuatnya lebih bahagia.
Hiraeth meletakkan penanya. Ia mengendurkan bahunya, pikirannya kembali pada ekspektasi yang orang tuanya tuntut darinya sejak awal.
Sejak hari itu, Hiraeth menjadi lebih sering menggunakan buku itu. Berkat tulisan-tulisan yang ia buat, nilainya di sekolah meningkat. Bahkan orang tuanya pun tidak lagi sering memarahinya seperti dulu.
Awalnya, ia memang merasa senang karena buku itu dapat memberikan apa saja yang ia butuhkan untuk memenuhi ekspektasi orang tuanya, membuat hidupnya lebih tenang.
Hari-hari berlalu menjadi minggu, lalu minggu menjadi bulan. Meski banyak pencapaian yang Hiraeth dapat, ia tetap tidak bisa mengabaikan suatu hal.
Perasaan yang rumpang itu masih ada.
Sekarang, Hiraeth memang lebih berprestasi. Namun, perlahan-lahan, setiap kali mendapat pujian, alih-alih merasa senang dan berterima kasih, ia selalu terkekeh canggung dan memuji balik.
Sebenarnya, Hiraeth ingin sekali berhenti menuliskan harapannya di buku itu. Namun, ia selalu teringat gambaran wajah orang-orang yang bangga kepadanya dan memujinya. Ia takut jika ia tidak menuliskan harapan-harapannya, semua yang ia capai akan hilang begitu saja.
Setiap kali Hiraeth membuat harapan, tangannya terasa berat. Setidaknya, selama buku ini bisa memuaskan ekspektasi orang-orang, ia tidak perlu memikirkan apakah dirinya sendiri bahagia atau tidak.
Setiap hari, Hiraeth memaksa dirinya untuk tetap bersekolah. Ia berpikir bahwa merasa keberatan untuk bangun dari tempat tidur bukanlah sebuah alasan untuk berhenti menjawab banyak pertanyaan di lembar soal.
Awalnya, Lyra tidak terlalu memerhatikan Hiraeth yang semakin sering menulis di buku itu. Perlahan, ia menjadi penasaran. Namun, setiap kali ia mencoba bertanya tentang buku itu, Hiraeth selalu mengalihkan topik pembicaraan.
Hari demi hari berlalu. Setiap kali bel pulang berbunyi, Hiraeth selalu menjadi orang pertama yang meninggalkan kelas. Ia juga lebih sering datang tepat sebelum bel masuk berbunyi. Lyra juga menyadari bahwa Hiraeth akhir-akhir ini sering menolak ajakan makan siang bersama dengan berbagai alasan yang terus berulang. Pesan-pesan dari Lyra juga dibalas dengan sangat singkat.
Awalnya, Lyra mengira Hiraeth hanya sibuk. Namun, semakin lama, Lyra mulai meragukan asumsinya.
Mulai dari buku yang terburu-buru ditutup saat Lyra mendekati Hiraeth.
Reaksi Hiraeth yang tidak terlihat terkejut maupun gembira setelah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
Hiraeth yang selalu menunggu Lyra untuk pergi dari kelas terlebih dahulu sebelum melakukan yang sama.
Dan yang paling aneh adalah saat Hiraeth beberapa kali menuliskan sesuatu yang tidak lama kemudian terjadi secara “kebetulan”.
Suatu pagi, Lyra memberanikan diri untuk menyapanya.
“Reth, kamu udah ngerjain tugas—”
“Udah.”
Hiraeth bahkan tidak mengangkat kepalanya dari buku.
“Oh…” gumam Lyra sebelum kembali memperhatikan buku sketsanya.
Hari-hari berikutnya, Hiraeth semakin jarang menghabiskan waktu bersama Lyra. Bahkan di kelas pun, keduanya semakin jarang berbicara. Lyra takut akan mendapat balasan yang dingin, jadi ia selalu ragu untuk memulai percakapan lebih dulu.
Suatu hari setelah bel istirahat berbunyi, Lyra melihat Hiraeth mengeluarkan dompetnya dari tasnya. Ia menyadari bahwa Hiraeth sedang menunggu Lyra untuk pergi terlebih dahulu seperti biasa.
Dengan begitu, Lyra langsung beranjak dari kursinya. Ia berpura-pura meninggalkan kelas, tetapi sebenarnya ia bersembunyi di balik loker, menunggu Hiraeth keluar melalui arah yang berlawanan.
Perhatian Lyra terfokus pada suara langkah kaki Hiraeth yang semakin dekat di antara keramaian. Lyra sontak merapat ke dinding ketika Hiraeth menoleh ke sekeliling, menunggu sampai langkah kaki Hiraeth menjauh.
Lyra berjalan cepat memasuki ruang kelas, menghampiri meja yang biasanya ia dan Hiraeth tempati.
Pandangannya tertuju pada buku hitam milik Hiraeth yang tergeletak di atas mejanya.
Lyra tahu Hiraeth tidak akan merasa nyaman jika seseorang melihat isi bukunya.
Tangannya perlahan terangkat. Meskipun ia tahu bahwa ia tidak seharusnya membuka sesuatu yang bukan miliknya, ia tetap harus melakukannya untuk mengetahui apa yang disembunyikan Hiraeth.
“Satu halaman saja…” setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Ia menarik napas pelan sebelum membuka halaman pertama. Matanya menelusuri buku berisi tulisan Hiraeth yang memenuhi halaman.
Awalnya, tidak ada yang terlihat aneh. Halaman-halaman pertama hanya berisi keseharian dan luapan perasaan Hiraeth yang dituliskan secara singkat. Dalam tulisannya, tidak terlihat sedikit pun usaha untuk mendeskripsikan semuanya dengan lengkap.
Setiap luapan emosi yang tertulis membuat Lyra berhenti sejenak. Ia mengepal kedua tangannya. Ternyata, ia tidak pernah menyadari bahwa Hiraeth selama ini sedang mengalami kesulitan.
Namun, sebuah kalimat menarik perhatiannya.
“Aku harap hari ini hujan akan turun sepanjang pelajaran olahraga agar ujiannya diundur.”
Setelah melihat tanggalnya, kalimat itu terasa terlalu mirip dengan kejadian yang pernah ia saksikan.
Kalimat itu memancing rasa penasarannya. Tangannya tidak dapat berhenti membalik halaman-halaman di buku.
Lyra terhenti sejenak di satu lembar kertas sebelum ia mulai membalik halaman-halaman lagi. Perhatiannya terpaku pada dua tulisan yang terletak berurutan di halaman tersebut.
“Aku berharap bisa makan puding mangga hari ini.”
“Aku berharap ibuku akan memberiku sebutir beras sebelum ia pergi bekerja.”
Untuk kesekian kalinya, matanya beralih ke tanggal yang tertulis di bagian atas halaman. Kalimat pertama membuatnya mengernyitkan dahi. Tulisan itu terasa tidak asing baginya, membuatnya mengingat kembali kejadian yang sama persis.
“Nggak mungkin, sih…” pikir Lyra. Ia membaca kalimat tentang puding mangga itu berkali-kali. Dengan kecurigaan, ia memilih untuk lanjut membaca isi buku harian Hiraeth.
Sementara kalimat kedua membuatnya mengatupkan bibirnya dan menundukkan kepalanya sejenak, berusaha menahan tawa.
Sebelum ia lanjut membalik halaman, Lyra mengangkat kepalanya untuk membaca waktu pada jam dinding. Lyra menyadari bahwa ia tidak mempunyai banyak waktu sebelum Hiraeth kembali. Ia langsung mengalihkan perhatiannya kembali pada buku tersebut. Alih-alih membuka halaman selanjutnya, ia membalik beberapa halaman sekaligus, mencari tulisan terbaru.
Tangannya berhenti di halaman tersebut. Kalimat yang berisi harapan semakin banyak. Matanya menyusuri tulisan-tulisan tersebut.
Beberapa kalimat terasa tidak asing. Perlahan-lahan, ia menyadari bahwa semua kalimat harapan yang ia temui di halaman terbaru memiliki sebuah pola, yaitu berhubungan dengan kejadian yang terjadi baru-baru ini.
Lyra buru-buru membuka halaman sebelum halaman terakhir. Ia mengambil sebuah pena yang tergeletak di atas meja mereka berdua. Dengan tulisan yang kecil, ia menuliskan sebuah kalimat di bagian ujung halaman.
“Aku berharap sepulang sekolah akan ada hujan deras tepat pada pukul 16.43 sampai 17.03.”
Setelah menuliskan kalimat tersebut, ia menutup dan mengembalikan buku Hiraeth dengan sigap, kemudian meletakkannya di atas meja.
Sesuai dugaannya, Hiraeth kembali ke kelas tak lama setelah Lyra menulis di buku harian Hiraeth.
Sepanjang pelajaran terakhir, Hiraeth terus melihat Lyra sekilas dan membenahi lengan bajunya sesekali. Entah mengapa, ia tidak bisa mengabaikan perasaan bahwa ada yang tidak beres dengan sikap Lyra yang tidak biasanya pendiam.
Perubahan sikap Lyra membuat waktu terasa seolah tak berujung. Untuk ketiga kalinya dalam lima menit, pandangan Hiraeth kembali tertuju pada jam dinding. Ia terfokus pada jari telunjuknya yang terus mengetuk meja, seolah-olah itu adalah sesuatu yang paling menarik di ruangan tersebut.
Akhirnya, bel pulang berbunyi. Hiraeth menghela napas lega. Mereka berdua mulai membereskan barang masing-masing. Saat Hiraeth hendak menyandang tasnya, suara Lyra memecah kesunyian.
“Hiraeth, boleh ngomong sebentar nggak? Boleh kok kalau mau di lobi, biar sekalian pulang bareng nanti.” Lyra mengangkat kepalanya. Tangannya terhenti di atas meja, seakan-akan hendak meraih tangan Hiraeth.
Hiraeth terhenti saat ia hendak berjalan, menoleh ke arah Lyra.
“Oh, iya. Boleh, kok,” jawab Hiraeth sembari memainkan tali tasnya.
Lyra menegakkan tubuhnya dari kursi, lalu menyandang tasnya di bahu sembari berjalan keluar kelas. Sementara Hiraeth berjalan menyesuaikan langkah kakinya dengan Lyra.
Sesampainya di lobi sekolah, mereka duduk di bangku dengan keheningan yang menyelimuti suasana.
Hiraeth terus memainkan jemarinya. Setelah menunggu beberapa saat, ia memecah keheningan dengan suatu pertanyaan.
“Jadi, kamu mau ngomongin apa tadi?” tanyanya sembari menghindari kontak mata dengan Lyra.
Lyra mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa waktu.
“Kita tunggu satu menit lagi, ya.” Lyra menurunkan ponselnya dan meletakkannya di atas pangkuannya.
Hiraeth mengernyitkan dahi setelah mendengar ajakannya.
“Oh, iya…” gumam Hiraeth singkat.
Kesunyian yang canggung mengisi suasana. Hiraeth menunggu Lyra mengatakan sesuatu sambil menundukkan pandangannya ke jemarinya, seakan-akan jemarinya adalah hal yang paling menarik saat itu juga. Sementara Lyra duduk diam dengan satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya.
Suara rintik-rintik hujan mulai terdengar dari luar. Semakin lama, hujan semakin deras. Lyra menegakkan posturnya, mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela dengan sedikit kaget. Ia lalu menoleh ke arah Hiraeth.
“Hujan ini bakal berhenti tepat di jam lima lewat tiga menit,” ujar Lyra dengan penuh keyakinan.
Hiraeth memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengangkat sebelah alisnya.
“Coba cek buku harian kamu,” lanjut Lyra sambil menyilangkan tangannya.
Rasa dingin menjalar di punggung Hiraeth.
“Kamu ngapain sama buku aku?” tanya Hiraeth dengan suara yang sedikit gemetar.
“Cek aja, halaman sebelum halaman terakhir.” Lyra menunjuk ke arah tas Hiraeth.
Hiraeth menarik ritsleting tasnya hingga terbuka. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan buku hariannya, lalu membuka halaman yang disebut Lyra.
Perhatiannya terpaku pada sebuah kalimat yang tertulis di ujung halaman.
“Aku berharap sepulang sekolah akan ada hujan deras tepat pada pukul 16.43 sampai 17.03.”
Hiraeth terdiam. Itu bukan tulisannya.
Ia membaca tulisan itu berkali-kali, lalu menoleh ke arah Lyra. Hiraeth hendak membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Merasa seakan kata-katanya terjebak di tenggorokannya.
Ia menyadari perubahan ekspresi Hiraeth. Lyra mengalihkan pandangannya, sementara jemarinya saling meremas di pangkuannya.
“Aku nggak marah, sih. Cuma nggak tahu aja harus gimana lagi. Kamu beda banget akhir-akhir ini,” ucap Lyra dengan pelan, pandangannya kembali menatap mata Hiraeth.
Lyra menunggu jawaban dari Hiraeth. Namun, karena tidak ada satu pun kata keluar darinya, ia memilih untuk membiarkan Hiraeth mendengarkannya.
“Aku tahu harusnya aku nggak boleh buka buku kamu. Aku minta maaf, ya,” lanjutnya sembari menundukkan kepalanya.
Setelah itu, hanya suara hujan dari luar yang mengisi ruangan. Lyra mulai memainkan jemarinya, tatapannya kemudian kembali pada Hiraeth.
“Aku jujur aja, aku juga iri sama kamu. Tapi, sejak kamu nulis di buku itu, kamu merasa lebih senang atau nggak?” tanya Lyra sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Hiraeth terdiam sejenak. Tatapannya tertuju pada buku yang ada di pangkuannya sebelum ia mengalihkan pandangannya.
“Nilaiku naik, orang tuaku semakin jarang memarahiku, aku juga dapat lebih banyak pengakuan dari orang-orang…”
“…semua orang bakal senang kalau bisa dapat semua itu,” lanjut Hiraeth sambil menutup buku yang tergeletak di pangkuannya, lalu melemparnya masuk ke dalam tasnya dengan lesu.
“Iya, sih. Tapi itu yang kamu dapetin, kan? Yang aku tanyain itu kamu senang atau nggak sejak kamu mulai nulis di buku itu?” Lyra menatap Hiraeth dengan serius.
Hiraeth mencoba membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar harus berhenti untuk memikirkan jawabannya.
“Aku… nggak tahu,” jawab Hiraeth singkat.
“Aku kira bakal lebih mudah kalau aku nulis di buku itu. Tapi sebenarnya nggak ada yang beda, malah lebih susah.”
“Ekspektasi orang-orang udah lebih tinggi sekarang. Kalau aku berhenti, pasti semuanya bakal hilang,” lanjut Hiraeth.
Lyra terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih kepada tas Hiraeth yang berisi buku hariannya.
“Tapi, kamu mau terus menulis di buku itu?” tanya Lyra kepada Hiraeth.
Hiraeth menoleh ke arah Lyra, tetapi ia tampak ragu untuk menatap matanya.
“Nggak yakin, sih,” ucap Hiraeth dengan suara pelan.
Lyra menarik napas pelan dan menundukkan pandangannya sejenak.
“Tapi, kalau kamu terusin, malah lebih susah, kan?” tanya Lyra pelan, matanya kembali tertuju pada Hiraeth.
Hiraeth terdiam untuk kesekian kalinya. Ia tahu Lyra benar, tetapi Hiraeth tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah menyadarinya.
Hujan perlahan berhenti, hanya tersisa sedikit rintik-rintik yang terdengar, mengisi suasana yang seharusnya sunyi.
Tidak ada jawaban yang keluar dari Hiraeth. Lyra menoleh ke arah jendela, lalu kembali pada Hiraeth.
“Udah, nggak apa-apa. Pulang bareng, yuk. Tapi, harus ajarin aku tentang pelajaran sekolah, ya. Nanti aku ajarin seni, deh,” ajak Lyra, mencoba meredakan ketegangan.
Hiraeth menatap Lyra sebentar sebelum tertawa kecil dan mengangguk.
“Iya, boleh.”
Mendengar ajakannya diterima, Lyra tersenyum tipis. Ia berdiri dari bangku, menyandang tasnya di bahu sebelum mulai berjalan. Hiraeth mengikutinya, menyesuaikan langkahnya dengan Lyra.
Mereka berjalan meninggalkan lobi, melewati gerbang sekolah yang mulai sepi.
“Rumah kamu nanti belok kanan sebelum rumah aku, kan?” Lyra menggaruk tengkuknya.
“Apaan, sih. Nggak usah basa-basi, deh. Cuma baru beberapa minggu sejak kita nggak pulang bareng, loh,” ucap Hiraeth sambil tersenyum kecil.
Lyra hanya terkekeh.
Malam itu, Hiraeth duduk di hadapan meja belajarnya. Ia menghela napas lega setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
Hiraeth melihat ke arah buku hariannya yang tergeletak di ujung meja. Ia meraih buku itu dan membuka halaman terakhir. Saat Hiraeth hendak menulis dengan penanya, ia berhenti di tengah gerakan.
Dengan malas, Hiraeth melemparkan pena itu ke dalam kotak pensilnya.
Hiraeth lalu mengalihkan pandangan ke langit malam di jendelanya. Bulan yang bersinar mengingatkannya pada harapannya sejak awal. Namun, sekarang ia bahkan tidak tahu harapan apa yang ingin ia tulis.
Hiraeth hanya menutup bukunya dan meninggalkan bangkunya untuk bersiap tidur. Akhirnya, ia membiarkan halaman terakhir buku itu tetap kosong.